Selasa, 12 April 2011

Makanan Khas Palembang Lainnya Selain Pempek

Makanan Khas Palembang Lainnya Selain Pempek :


Celimpungan

adalah makanan yang berasal dari Palembang Sumatera Selatan. Bahan dasar celimpungan adalah adonan sagu dan ikan seperti halnya empek-empek.

Perbedaan terletak pada bentuk dan kuahnya. Celimpungan berbentuk bulat dengan diameter 10 cm dan tipis (pipih). Kuahnya terbuat dari santan dan racikan bumbu-bumbu lainnya. Celimpungan dimakan bersama sambal gorengnya.


Model

pada dasarnya dibuat dari adonan yang sama dengan pempek kapal selam. Bedanya, model diisi dengan tahu dan digoreng sebelum disaji. Pada waktu dihidangkan, model di campur dengan kuah model yang terbuat dari kaldu udang. Selain dicampur dengan bihun, biasanya dicampur dengan timun dan ebi.

Jenis-jenis model ini terdiri dari 2 macam, yaitu model ikan dan model gendum. Model ikan dibuat dengan bahan yang hampir sama dengan pempek. Sedangkan model gendum terbuat dari tepung terigu. Biasanya model gendum ini lebih murah daripada model ikan. Model sangat terkenal juga di Kota Palembang.


Tekwan

adalah hidangan sup khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu yang dibuat dalam ukuran kecil-kecil, dan disajikan dengan menggunakan kuah udang dengan rasa yang khas. Biasanya pelengkap tekwan adalah bihun, irisan bengkoang dan jamur, serta ditaburi irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng.


Laksan

adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari bahan baku sagu dan ikan. Laksan dibuat dalam bentuk oval dengan rasa yang hampir pempek, tetapi disajikan dengan menggunakan kuah santan.


Mie Celor

adalah hidangan mi yang disajikan dalam campuran kuah santan dan kaldu ebi (udang kering), dicampurkan taoge dan disajikan bersama irisan telur rebus, ditaburi irisan seledri, daun bawang dan bawang goreng. Hidangan ini berasal dari kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, dan bersama dengan Pempek telah menjadi hidangan khas Palembang, dan Ukuran mi yang digunakan lebih besar,


Kue Delapan Jam

Makanan khas / kue tradisional asli Palembang yang pembuatannya membutuhkan waktu delapan jam ini khusus disajikan pada saat-saat istimewa.

Dalam tradisi masyarakat Palembang, suatu kehormatan jika disuguhi kue delapan jam. Hidangan kue yang rasanya manis ini mengungkapkan penghormatan orang Palembang kepada kerabat dan tamu, terlebih di saat silaturahmi seperti Lebaran dan hari besar semua agama di palembang..
Sesuai dengan namanya, keistimewaan kue delapan jam terletak pada proses pembuatannya yang membutuhkan waktu delapan jam.

Resep pembuatannya merupakan resep tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Itulah yang membuat kue ini terus bertahan sampai sekarang.

"Semua orang asli Palembang tahu bagaimana membuat kue delapan jam. Tetapi, untuk alasan praktis, sebagian orang memilih untuk memesan saja,

Di Palembang Makanan sejenis kue basah ini dibuat dengan bahan dasar telur bebek, susu kental manis, susu bubuk putih, mentega, dan gula. Bahan-bahan pembuat kue itu memang tergolong mahal.

Daya tahan kue delapan jam paling lama satu minggu jika disimpan di luar lemari pendingin atau satu bulan jika disimpan di lemari pendingin.( sumber : http://kotapalembang.blogspot.com)

Kue maksuba

Maksuba adalah nama salah satu makanan tradisional Palembang. Makanan sejenis kue basah ini tidak banyak terdapat di toko-toko kue yang bertebaran di segenap penjuru kota. Meski begitu, terkadang maksuba justru dapat dijumpai di sebuah kedai makanan yang terdapat di Pasar Cinde, salah satu pasar tradisional tertua di pusat Kota Palembang.

Sepert Kue Delapan Jam, Kue maksuba memang bukan kue yang biasa disajikan sembarang waktu. Dalam tradisi masyarakat Palembang, kue ini merupakan hidangan pada saat-saat istimewa, khususnya

Menyajikan hidangan istimewa memang diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada kerabat dan tamu. Terlebih saat silaturahmi Lebaran, saling berkunjung untuk mempererat persaudaraan. Hidangan Lebaran rasanya tak lengkap tanpa maksuba.

Apalagi buat pengantin baru, ada kewajiban memberi antaran ke mertua saat lebaran, yang paling bagus, ya, maksuba itulah.

Akan tetapi, pada kenyataannya, kue maksuba memang makanan yang berkadar kolesterol tinggi. Kue basah ini sama sekali tidak berbahan tepung.

Menurut resep tradisional, macam bahan pembuatan maksuba tidak banyak. Hanya telur bebek (biasanya disiapkanlah adonan 28 butir telur), susu, mentega, dan gula.

Kalau asal beli di pasar, apa bisa dijamin. Kadang telurnya dicampur telur ayam biasa karena telur bebek mahal. Makin sedikit pakai telur bebek, rasanya kan kurang ‘Lemak Nian” “lemak nian”dalam bahasa daerah Palembang berarti sangat lezat.

Untuk mengimbangi rasa manisnya yang lekat, maksuba biasa disajikan bersama makanan khas Palembang lain yakni pempek, tekwan, atau model yang menonjolkan rasa gurih. Pempek, tekwan, maupun model.

Meskipun tanpa pengawet, maksuba dapat bertahan sekitar empat hari sebelum perlu dikukus lagi agar tetap sehat dimakan. “Kalau dimasukin lemari es, seminggu tanpa dikukus juga enggak apa-apa,”

Meskipun komposisi tak beragam, tetapi bahan pembuat maksuba ini jelas tergolong mahal. Selain biaya yang mahal, proses pembuatan maksuba pun memerlukan ketelatenan. Di situlah keistimewaan yang membuat maksuba dikenal sebagai “makanan kehormatan”

APEM BANYU


Seperti kue Apem lainya, bahan bakunya adalah juga beras. Hanya berbeda bentuk rasa dan cara pembuatan. Kue Apem biasanya dikukus dalam sebuah cetakan, lalu dibubuhi kelapa untuk disajikan. Kalau Apem Banyu makannya memakai kuah (Banyu). Bentuknya Bulat seperti kue cucur. Tanpa kuah maka kurang enak dimakan. Rasanya rada-rada masem. Sebab membuatnya memakai Umak.

Berbeda dengan kue cucur yang digoreng dalam kuali berisi minyak. Letak enaknya Apem banyu ini terletak di kuahnya. Kuah atau istilahnya wong Palembang "doo-doo"nya itu dibuat dari campuran santan kelapa, gula merah, diberi bumbu seperti cengkeh, pala, lada, kayu manis, musoyyi, cabe jawa dan beras digoreng.

Apem banyu ini biasanya disediakan atau disajikan oleh orang-orang di kampung pada saat acara tahlillan di tempat kematian. Inipun baru disajikan pada hari ke enam.


MENTU & BUGIS


Kue mentu merupakan makanan yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus, tetapi rasanya tidak terlalu manis sebab terbalut tepung di dalamnya ialah Pepaya Muda diparut dibumbui dengan ikan atau daging. Dan makan ini merupakan makanan tradisional yang sering disediakan pada saat mengawinkan anak di Palembang.

kue bugis juga dapat kita jumpai di daerah-daerah lain yaitu suatu jenis makanan yang dibungkus daun pisang dimana di dalamnya terdapat gula / kelapa terbungkus tepung.


DADAR JIWO & KUIPAU


Kuipau juga dibuat dari pepaya muda diparut yang dibumbui. tetapi bungkusannya ialah terbuat dari tepung beras yang cair kemudian di lenggang pada kuali sehingga menjadi lembaran-lembaran seperti martabak. Kulit inilah menjadi pembungkus pepaya muda itu dibentuk segi empat. Sesudah itu disajikan dipiring. Kuipau itu dihiasi dengan belundu dan bawang goreng.

Bedanya kuipau dengan dadar jiwo yaitu yang disebut belakangan ini adalah warnanya kuning. membuatnya sama saja. Hanya kulitnya Dadar Jiwo terbuat dari tepung terigu yang diberi warna kuning dengan merah telur atau lainnya. rasanya antara Kuipau dan Dadar Jiwo hampir sama saja.

SAMBEL LINGKUNG

Sambel lingkung adalah makanan untuk campuran nasi, atau ketan.

Bentuk dan warnanya mirip dengan abon, coklat kehitam-hitaman. Terbuat dari bubuk kelapa yang diolah bersama ikan dan diberi bumbu. Cara membuatnya ialah kelapa sudah diparut lalu digoreng hingga kering. Kemudian kelapa ditumbuk sampai halus. Lalu dimasukkan dikuali bersama ikan yang sudah direbus dan kemudian dibersihkan tulang-tulangnya dan diremas hingga halus.

Bumbu-bumbunya terdiri dari lengkuas atau laos, ketumbar, jinten, cabe alias lombok merah, bawang merah dan bawang putih plus daun salam.

Ada juga orang membuat Sambel Lingkung dari daging atau Ayam sebagai pengganti ikan. Makanan ini sering dibawa jika berpergian jauh karena awetnya.

.(Sumber :http://amarlubai.wordpress.com, http://pujanggapiping.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar