Sabtu, 24 April 2010

HAUL DAN ZIARAH KUBRA ULAMA DAN AULIYA PALEMBANG DARUSSALAM

HAUL DAN ZIARAH KUBRA ULAMA DAN AULIYA PALEMBANG DARUSSALAM

Tiap tahun menjelang Bulan Suci Ramadhan, Kota Palembang dibanjiri ulama, habaib dan kyai dari penjuru tanah air dan luar negeri yang menyempatkan diri menghadiri Haul dan Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam.


Suasana berbeda seringkali terjadi pada hari-hari terakhir Bulan Sya’ban. Hari-hari tersebut dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk berziarah, baik menziarahi makam anggota keluarga yang telah mendahului, maupun ke makam ulama dan para wali Allah. Suasana tersebut juga dirasakan di Kota Palembang, terlebih dengan digelarnya Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam yang biasanya diadakan seminggu menjelang masuknya Bulan Ramadhan.


Di kota ini juga akan digelar Haul seorang Waliyullah besar yang menjadi penghulu sebagian nasab keturunan Alawiyyin. Beliau adalah Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Habib Abdurrahman As-Seggaf bin Muhammad Maula Ad-Dawilaih R.A. yang merupakan salah seorang tokoh para wali dan ulama dari Ahlil Bait Alawiyyin. Beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman Zanbal di kota Tarim (Hadramaut – Yaman) pada tahun 819 H.


Acara Ziarah Kubra merupakan salah satu tradisi turun temurun, terutama bagi kaum alawiyyin yang bermukim di Kota Palembang maupun masyarakat pencinta ulama dan wali-wali Allah. Acara ini juga melibatkan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam mengingat eratnya hubungan kekeluargaan kaum alawiyyin dengan para sultan di Kesultanan Palembang Darussalam.


Sebagai acara pertama dari rangkaian ziarah kubra ini adalah Haul Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Hamid. Al-Habib Abdullah bin Idrus merupakan salah satu tokoh kebanggaan masya-rakat Palembang, semasa hidupnya ia mempunyai kedudukan yang tinggi disebabkan ilmu dan akhlaknya yang mulia, itu terjadi dimanapun ia berada, bahkan di Hadhramaut sendiri pun ia mendapatkan penghormatan yang lebih dari para habib disana.


Didalam kitab Tuhfatu Al-Ahbab fi Manaqib Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Shahab disebutkan bahwa setiap kali Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun datang ke kota Tarim, beliau selalu berusaha untuk memuliakan dan mengutamakan Habib Abdullah untuk menjadi imam shalat baik di majlis-majlis umum maupun khusus. Beliau berkata “Aku melihat semua hati manusia mencintainya dan tidak ada satupun yang memusuhinya”. Habib Abdullah bin Idrus adalah ayah dari Habib Alwi Qolbu Tarim, Hadramaut. Makamnya yang terletak di Gubah Duku yang merupakan tanah wakaf Habib Syech bin Ahmad bin Shahab ini sering diziarahi oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar kota Palembang, bahkan tamu-tamu dari Pulau Jawa dan Hadramaut.


Sedangkan Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid merupakan seorang habib yang mulia, ia banyak menimba ilmu pengetahuan dari para habib baik di Palembang maupun dari Hadramaut, diantaranya Habib Abdullah bin Idrus bin Shahab. Adapun tokoh habaib yang banyak menimba ilmu pengetahuan darinya antara lain putranya sendiri Habib Ahmad, Habib Ahmad bin Zein bin Shahab dan Habib Muhammad bin Hamid bin Syech Abubakar.


Acara yang diadakan di perkampungan Alawiyyin Sungai Bayas Kelurahan Kuto Batu Palembang ini selain dihadiri oleh para ustadz dan sesepuh habaib kota Palembang, juga dimeriahkan dengan kedatangan beberapa ulama dan habaib dari luar kota Palembang bahkan dari luar negeri, seperti dari Kota Mekkah, Madinah, Yaman, Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam. Haul berakhir pada pukul 09.00 dan dilanjutkan dengan ziarah bersama.


Perjalanan dari tempat haul ke tempat-tempat pemakaman dilakukan dengan berjalan kaki dan disemarakkan tetabuhan hajir marawis dan untaian qasidah, juga dengan membawa umbul-umbul yang bertuliskan kalimat tauhid. Antusias yang begitu besar terlihat dari para jemaah dalam mengikuti ziarah kubra ini meskipun perjalanan yang ditempuh cukup jauh, selain mengharapkan berkah, juga dikarenakan turut sertanya para habib dalam perjalanan tersebut.


Rangkaian ziarah dimulai di Pemakaman Al-‘Arif Billah Al-Habib Pangeran Syarif Ali Syekh Abubakar yang berlokasi di Kelurahan 5 Ilir Boom Baru. Al-Habib Pangeran Syarif Ali, merupakan seorang waliyullah yang ‘alim dan berwibawa, sehingga ia disegani oleh banyak orang. Syarif Ali dilahirkan di Palembang pada tahun 1795 M dari seorang ibu yang bernama Syarifah Nur binti Ibrahim bin Zain bin Yahya. Adapun ayahnya Habib Abubakar dilahirkan di kota Inat, Hadramaut. Habib Abubakar datang ke kota Palembang bersama ayahnya yaitu Habib Sholeh bin Ali sekitar tahun 1755 diakhir masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I. Setelah itu Habib Sholeh kembali ke Hadramaut dan meninggal di kota kelahirannya Inat.


Sebagaimana lazimnya para wali, disamping mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, ia juga banyak menimba ilmu agama dari para habib baik dari kota Palembang sendiri maupun dari Hadhramaut. Selain terdidik dalam lingkungan keagamaan, pada usia dewasanya, Syarif Ali giat melakukan pelayaran niaga, terutama ke Kalimantan dan Jawa. Pelayaran dengan kapal kayu sederhana (Pinisi), mengarungi lautan luas selama beberapa waktu dengan segala macam rintangan, membentuk watak dan kepribadian yang kuat dalam jiwanya sehingga ia dikenal sebagai seorang yang gagah berani, teguh pendirian, tidak banyak berbicara dan bersikap tegas dalam menangani persoalan.


Dari pergaulan yang luas dalam hubungannya dengan para pembesar kesultanan, Syarif Ali memperoleh pengalaman diplomatik. Karena itu ia tampil sebagai seorang yang berwibawa dan mendapat kepercayaan Sultan. Pernah suatu ketika Syarif Ali melakukan misi khusus ke Kalimantan untuk keperluan Sultan Husin Dhiauddin dan misi tersebut berhasil dengan baik. Karena ini Sultan menikahkan salah seorang putrinya yang bernama Laila dan dari perkawinan inilah Syarif Ali diberi gelar Pangeran. Bahkan beliau meskipun dalam usia yang relatif muda sudah dipercaya untuk menduduki jabatan bendahara kesultanan. Pangeran Syarif Ali wafat pada tanggal 27 Muharram 1295 H / 1877 M.


Selain makam Habib Pangeran Syarif Ali dan keluarganya, disini juga dimakamkan Habib Umar bin Alwi bin Zain bin Syahab yang merupakan ipar dari Pangeran Syarif Ali, beliau dimakamkan tepat disebelah makam Pangeran Syarif Ali. Habib Umar adalah seorang ulama yang banyak menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok terpencil, beberapa suku adat di pedalaman Palembang masuk Islam berkat beliau, terutama di pesisir sungai Musi, antara lain daerah Pegayut, Pemulutan, Muara Batun, Lingkis, Ulak Temago, Suko Darmo, bahkan sampai saat ini banyak keturunannya tinggal di daerah Bungin Kiaji yang lebih dikenal dengan dengan Desa Pegayut.


Dari Pemakaman Pangeran Syarif Ali, rombongan ziarah melanjutkan perjalanan menuju ke Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep yang terletak di Kelurahan 3 Ilir Boom Baru Palembang. Pemakaman ini dibangun pada tahun 1728 M oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758 M), yang merupakan seorang pemimpin yang arif dan adil, bahkan ia adalah seorang ulama yang hafal Al-Qur’an. Didalam pemerintahannya, Sultan Mahmud Badaruddin I banyak mengadakan musyawarah terutama dengan para habib, iapun memiliki guru-guru agama dari kalangan habaib. Bahkan hampir semua putrinya dinikahkan dengan habaib.

Adapun Imam Kubur - istilah untuk penasehat agama kesultanan yang biasanya dimakamkan bersebelahan dengan para sultan - dari Sultan Mahmud Badaruddin I yaitu Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Al-Idrus. Habaib lainnya yang dimakamkan di Pemakaman Kawah Tengkurep ini antara lain Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Husin Al-Idrus (Maula Taqooh) yang merupakan Imam Kubur Sultan Ahmad Najamuddin (1758-1776 M), Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Haddad (Datuk Murni) yang merupakan Imam Kubur Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803 M), Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Yusuf Al-Angkawi, Al-‘Arif Billah Al-Habib Agil bin Alwi Al-Madihij (Penghulu Al-Madihij di Palembang) serta Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad dan Habib Ahmad bin Idrus Al-Habsyi, yang merupakan ayah dan kakek dari Habib Nuh Al-Habsyi (Keramat Tanjung Pagar Singapura).


Selain itu disini juga dimakamkan seorang waliyah bernama Hababah Sidah binti Abdullah bin Agil Al-Madihij. Dikisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan Rasulullah SAW secara yaqozoh (dalam keadaan sadar) dengan iringan tetabuhan rebana dan aroma harum wewangian, sehingga seluruh perkampungan disekitar rumahnya pun dapat mendengar suara tabuhan rebana tersebut. Hingga kini rumah tempat tinggalnya masih ada dan terawat dengan baik.


Setelah melakukan perjalanan ke kedua pemakaman tersebut, rute ziarah pun berakhir di Pemakaman Habaib Kambang Koci yang terletak bersebelahan dengan Pemakaman Kawah Tengkurep. Konon, pada tahun 1151 H / 1735 M, Sultan Mahmud Badaruddin I mewakafkan sebidang tanah yang cukup luas untuk pemakaman anak cucu serta menantunya. Tanah pemakaman tersebut dinamakan Kambang Koci yang berasal dari kata-kata kambang (kolam) dan sekoci (perahu), karena jauh sebelumnya tempat itu merupakan tempat pencucian perahu.


Dalam sejarahnya, areal pemakaman ini telah beberapa kali berusaha direbut oleh pihak-pihak yang merasa berkepentingan. Bermula pada masa pendudukan Belanda sekitar tahun 1913 M, melihat posisinya yang begitu strategis terletak di tepi Sungai Musi, di kawasan ini dibangun Pelabuhan Boom Baru, dan berselang 11 tahun kemudian, Pihak Belanda berusaha mengambil areal pemakaman ini, namun pihak ahli waris mempertahankannya sehingga sampailah pada suatu perundingan di Batavia (sekarang Jakarta) dengan dimenangkan oleh pihak ahli waris. Demikian pula pada masa penjajahan Jepang, upaya-upaya perebutan areal pemakaman tersebut masih terjadi namun tetap tidak berhasil.


Pada masa kemerdekaan, tepatnya 16 Nopember 1974, Pemakaman Kambang Koci ini diresmikan menjadi pemakaman anak, menantu, serta cucu-cucu Sultan Mahmud Badaruddin, yang dihadiri oleh Bapak R.H.A. Arifai Tjek Yan, Walikota Palembang kala itu serta pihak dari Pelabuhan Boom Baru. Berselang setahun kemudian, kembali terjadi persengketaan dengan pihak pelabuhan sehingga terjadi pembagian luas areal pemakaman ini dari 5000 meter persegi dibagi 2/3 untuk pihak pelabuhan dan 1/3 untuk ahli waris, sehingga saat ini keseluruhan luas area Kambang Koci ini tinggal 1400 meter persegi.


Upaya-upaya pihak pelabuhan terus dilakukan untuk mendapatkan sisa areal pemakaman yang ada. Pada tahun 1999 pihak ahli waris yang diwakili Ketua Yayasan Kambang Koci, Habib Muhammad Ahmad Shahab dan pihak pelabuhan melakukan pertemuan di Kantor Gubernur Sumsel yang menghasilkan keputusan bahwa pihak pelabuhan harus memasang kembali pagar yang telah mereka robohkan sebelumnya. Dan dipenuhilah keputusan tersebut oleh pihak pelabuhan dengan membangun pagar kokoh yang mengelilingi keseluruhan sisa areal pemakaman Kambang Koci yang terdiri dari lebih kurang 300 makam.


Saat ini, hampir keseluruhan keturunan Alawiyyin yang tinggal di Palembang memiliki silsilah bersambung dengan para habib yang dimakamkan di pemakaman ini, paling tidak silsilah dari sebelah ibu.


Beberapa penghulu habaib yang dimakamkan disini antara lain:

- Al-‘Arif Billah Al-Habib Syech bin Ahmad bin Syahab yang merupakan ulama besar pada masanya dan dikarenakan kedekatannya dengan Sultan Mahmud Badaruddin I, ia dianugerahi tanah yang sangat luas oleh Sultan dari daerah Kuto sampai Kenten, yang antara lain ia wakafkan sebagai tanah pemakaman kaum alawiyyin Palembang serta tanah wakaf masjid Daarul Muttaqien.

-Al-‘Arif Billah Al-Habib Ibrahim bin Zein bin Yahya (w.1790 M), merupakan seorang ulama besar yang memahami banyak masalah Ilmu Fiqh, beliau adalah menantu Sultan Mahmud Badaruddin I yang beristerikan Raden Ayu Aisyah binti Sultan Mahmud Badaruddin I.

-Al-‘Arif Billah Al-Habib Alwi bin Ahmad Al-Kaaf yang dikenal sebagai seorang wali Quthb, diceritakan bahwa pernah suatu kali saat ayahnya melakukan pelayaran ke Singapura dengan sebuah kapal. Di dalam perjalanan, kapal tersebut mengalami kebocoran pada lambungnya, ketika akan diperbaiki ternyata kapal tersebut telah ditambal dari luar kapal dan setelah diperiksa ternyata didapati sebuah sandal yang menutup rapat kebocoran tersebut. Setelah sandal tersebut diambil dan dihadapkan kepada Habib Ahmad, maka beliau mengenali sandal tersebut adalah milik anaknya, Habib Alwi. Setibanya kembali di Palembang didapati Habib Alwi tengah menunggu ayahnya dengan mengenakan sebelah sandal seraya meminta sandal yang satunya lagi dari ayahnya yang digunakan untuk menambal kapal tersebut. Masih banyak lagi keramat dari Habib Alwi ini, bahkan tatkala ia wafat, maka datanglah surat dari Kampung Al-Hajrain, Hadhramaut (setelah 6 bulan perjalanan laut dari Hadhramaut ke Palembang) yang isinya menanyakan siapakah wali di Palembang yang wafat sehingga di Kota Tarim, Hadhramaut terjadi gempa.

Selain itu, di pemakaman ini juga dimakamkan Habib Abdullah bin Salim Al-Kaaf yang merupakan seorang ulama besar sekaligus pengusaha yang sukses. Beliaulah yang membangun Masjid Sungai Lumpur pada tahun 1287 H yang berlokasi di 11 Ulu Palembang, dan Habib Abdullah bin Ali Al-Kaaf yang merupakan seorang wali yang mastur (tersembunyi) . Adapun keturunannya banyak yang menjadi orang sholeh dan ulama besar yang tersebar di Tegal, Jakarta, Jeddah, dan Hadhramaut. Antara lain Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaaf, Jeddah dan Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaaf, Jakarta dengan anak-anaknya yang menjadi muballighin.


Banyaknya para wali yang dimakamkan disini membuat para peziarah selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke pemakaman ini, baik dari kalangan awam maupun tokoh habaib. Tercatat sebagian kecil diantaranya, yaitu Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor (Bondowoso), Habib Muhammad bin Husin Al-Idrus (Surabaya), Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Jakarta), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Ali bin Husin Al-Atthos (Bungur), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Habib Umar bin Hafizh BSA dan Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri (Hadhramaut- Yaman).


Pernah suatu ketika dalam ziarahnya, Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul) diberitahu bahwasanya pemakaman ini akan dibongkar, mendengar hal itu ia hening sesaat dan berkata bahwa pembongkaran tidak akan terjadi, dikarenakan Allah SWT yang akan selalu menjaganya, dan hal ini benar-benar terbukti. Sebagai contoh tatkala ada usaha untuk memindahkan jenazah dari pemakaman ini ke pemakaman lain dalam usaha mengambil alih areal pemakaman pada tanggal 19 Desember 1997, setelah peti-peti jenazah yang berjumlah lebih kurang 104 buah (dihitung berdasarkan jumlah nisan yang nampak) disiapkan di Kambang Koci untuk memindahkan makam yang ada, didapatlah kabar mengenai jatuhnya pesawat Boeing 737-300 Silk Air dari Singapura di Muara Makati, Perairan Sungsang, Sumatera Selatan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Dan yang mengherankan jumlah korban tewas yang dipastikan sebanyak peti yang disiapkan, yang terdiri dari 104 penumpang termasuk 7 awak. Mengingat keperluan yang lebih mendesak akhirnya peti-peti yang telah disiapkan tersebut tidak jadi digunakan, dan lahan pekuburan yang telah disediakan bagi jenazah Kambang Koci diisi dengan jenazah korban tewas kecelakaan pesawat tersebut.


Mengingat banyaknya para wali yang dimakamkan di Pemakaman Kambang Koci serta di beberapa pemakaman lainnya di kota Palembang, maka banyak dari pemuka habaib dari Hadhramaut menyebut Kambang Koci sebagai Zanbal (pemakaman para wali di Kota Tarim, Hadhramaut)- nya Palembang. Dan Kota Palembang sendiri sebagai Hadramaut Tsani alias Hadramaut Kedua.


Insya Allah, Ziarah Kubra tahun ini akan dihadiri oleh banyak tamu dari luar kota dan luar negeri, antara lain Ulama Pattani (Thailand),Habib Hasan Al-'Atthas (Singapura), Syed Ibrahim bin Ahmad bin Yahya (Pegawai Khas Menteri Besar Pahang, Malaysia) beserta rombongan, Syed Agil bin Yahya dan rombongan tahfizul Quran Malaysia,Jemaah Jenderami (Malaysia), tamu dari Brunei Darussalam.Serta para ulama dan habaib dari Pulau Jawa,antara lain Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aidarus (Malang), Habib Sholeh Al-Habsyi (Jakarta), dll.

Sumber :

  • Kiswah Habaib, Mengungkap Figur Tokoh-Tokoh Sadah Ba’alawi Palembang, Edisi I, 2001.
  • Ziarah Kubra & Sekilas Mengenai Ulama dan Auliya Palembang Darussalam, Edisi II, S. Abdullah Syukri Shahab, 2004.
  • Pangeran Syarif Ali Asal-Usul dan Keturunannya, S. Ahmad bin Hamid BSA, 2004.


Penulis : Abubakar Rafiq BSA. (Majelis rasullulah)

Makam Sabokingking

Makam Sabokingking

Makam Sabokingking, merupakan pemakaman para raja-raja pendiri kerajaan Islam Palembang yang telah berusia sekitar 500 tahun. Makam ini terletak di Sei-Buah, Ilir Timur II, Palembang.


Makam yang luasnya sekitar 80 meter persegi itu terletak sebuah delta yang dikelilingi oleh kolam. makam yang terdapat kuburan Pangeran Sido Ing Kenayan (1622-1630) dan istrinya Ratu Sihuhun, Sido Ing Pasaeran atau Jamaluddin Mangkurat I (1630-1652) dan Pangeran Ki Bodrowongso yang pernah hidup berkisar tahun 1622-1635 Masehi serta imam kubur Al Habib Al Arif Billah Umar bin Muhammad Al Idrus bin Shahab, serta Panglima Kiai Kibagus Abdurrachman.

Letak makam Pangeran Sido Ing Kenayan dan istrinya Ratu Sinuhun ini tidak jauh dari dari kompleks pemakaman kakek mertuanya Ki Gede Ing Suro, di lorong Haji Umar, di 1 Ilir Palembang. Ratu Sinuhun merupakan cucu Ki Gede Ing Suro.

Di bawah pemerintahan Sido Ing Kenayan, Ratu Sinuhun mampu melahirkan kitab Undang-undang 'Simbur Cahaya' yang merupakan hukum adat tertulis dan berlaku di seluruh wilayah Sumatra Selatan saat itu.


Disekitar makam ini juga terdapat pemakaman umum buat penduduk asli daerah tersebut. Untuk menuju ke tempat ini dapat mi akses melalui dua jalan, Jalan Sabokingking dan Jalan Arafuru. Makam Sabokingking ini merupakan makam tertua para raja atau pangeran di Palembang.



Peninggalan Penjajahan Jepang di Palembang

Peninggalan Penjajahan Jepang di Palembang

Peninggalan Penjajahan Jepang di Palembang meninggalkan banyak bekas bangunan yang bersejarah. Peninggalan sejarah ini apabila digarap secara maksimal oleh pemerintah akan dapat dinikmati sebagai objek wisata sejarah. bekas-bekas bangunan ini ternyata tak begitu dikenal warga Palembang sendiri. Sedikitnya, terdapat 15 bekas bangunan balatentara Jepang berserakan di berbagai lokasi di Kota Palembang, bangunan-bangunan eks Jepang umumnya tidak terawat, meski terdapat di tengah kota atau di tengah lingkungan tempat tinggal warga.

Setidaknya, ada 15 objek yang berpotensi untuk dikembangkan misalnya:

  • Rumah perlindungan di bawah tanah (bungker) di Jl Joko Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang.

  • Terowongan di Jl Joko, tepatnya di belakang Aula Imanuel; Kompleks Pertahanan di Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus;

  • Pekuburan tentara Jepang di Talang Kerikil.

  • Kompleks Pertahanan Udara di Jl Sudirman, tepatnya di samping Rumah Sakit Kristen (RSK) Charitas;

  • Kompleks Pertahanan di Jl AKBP H Umar, Kelurahan Ariokemuning;

  • Kompleks Pertahanan Jepang di Jl Majapahit, Kelurahan 1 Ulu;

  • Kompleks Pertahanan di Kelurahan 15 Ulu;

  • Asrama Tentara di Tegal Binangun;

  • Kompleks Pertahanan di Pulau Melati, Kelurahan Keramasan, Kertapati;

  • Jalan Jepang di Kelurahan Karya Jaya;

  • Kompleks Pertahanan di Jl Pertahanan, Plaju;

  • Benteng Jepang di Lorong Sikam, Plaju;

  • Kompleks Pertahanan Udara di Tegal Binangun, Plaju.


Tentang bunker di Jl Joko, Kelurahan Talang Semut, masyarakat sekitarnya tak menyadari kalau sesungguhnya bangunan yang tinggal menyisakan puing-puing ini dahulu menjadi basis pertahanan Jepang saat menghadapi musuh. Saat ini bungker itu memang tidak lagi di dalam tanah karena tanah di daerah ini sudah diuruk. Namun masih terdapat sisa bangunan yang menurut masyarakat setempat dulunya dibangun oleh Belanda untuk menghadapi Jepang. Dinding bunker ini terbuat dari beton cor dengan ketebalan 0,25 m dan tinggi dinding 2,4 meter. Luas bangunan diperkirakan 17,8x8 meter, dan bentuknya masih terlihat sampai sekarang.



Di Jl Joko, tak jauh dari bungker, terdapat terowongan. Pintu masuk terowongan yang diperkirakan menuju bunker masih tersisa. Begitu pun terowongannya, masih ada. Namun yang mengukur seberapa jauh terowongan itu dan ke mana tembusnya. Namun demikian, terowongan berbentuk segi empat ini memiliki ukuran 3x2,7 meter, dengan pintu berukuran 2 x 1,2 meter. Diduga, terowongan ini cukup panjang dan berliku-liku, dan terlihat masih kuat. Namun karena gelap dan licin, tak jelas bagaimana kondisi di dalamnya.


Kompleks Pertahanan setidaknya ada sembilan kompleks pertahanan Jepang yang kini masih ada puingnya. Kompleks pertahanan di samping RSK Charitas terbuat dari beton cor dengan ketebalan 0,5 meter dan tinggi dinding 2 meter. Sementara itu, luas bangunannya adalah 32x15 meter. Lokasi bangunannya pun di daerah yang cukup tinggi. Untuk mencapainya, terdapat tangga yang sudah terlihat menghitam. Di lokasi ini juga terdapat terowongan yang diperkirakan tembus ke pinggiran Sungai Musi. Tempat ini diperkirakan dipergunakan sebagai tempat untuk melarikan diri kalau kondisi sedang tidak memungkinkan untuk bertahan. Sementara itu, pada saat ini, kondisi terowongan itu sendiri tak memungkinkan untuk dimasuki. Di sini masih terlihat bekas landasan meriam berukuran 5x4 meter. Luas areal seluruhnya sekitar satu hektare, terjepit areal RSK Charitas. Lokasi ini pun tampak tidak terawat. Selain rumput, terdapat juga semak-semak dan pohon pisang yang menjadi “penghias”.

Adapun tempat Pertahanan di Jl AKBP H Umar, puing-puingnya masih berdiri kokoh. Di areal seluas 4.710 m2 terlihat bekas bangunan dan terowongan yang sudah tak utuh lagi. Bangunan induk berupa bunker berukuran 20x20 meter, dan di pintu masuk terdapat terowongan berukuran 2x1,5 meter. Pintu gua inilah yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Gua Jepang.

Bangunan yang cukup menarik adalah bekas benteng yang terdapat di Lorong Sikam Darat, Plaju. Benteng Kembar berukuran 8 x 6 meter ini memang tidak utuh lagi. Namun, lokasi ini cukup menarik, apalagi bentuknya kokoh. Begitu juga bangunan berbentuk kawah telungkup di Jl Tegal Binangun, Lorong Perlindungan, Plaju. Adapun bangunan berdiameter 14 meter dengan tinggi puncak 3,5 meter dan dinding setebal 0,9 meter ini terlihat unik.
Tak jauh dari bangunan ini, terdapat juga kompleks yang diperkirakan pertahanan artileri. Bangunan dengan dinding beton setinggi 1,5 meter dan dikelilingi tiang-tiang beton itu terlihat cukup menyeramkan. Sementara itu, beberapa fondasi tapakan penangkis serangan udara juga terlihat masih utuh.


Markas tentara Jepang masih terlihat dari sisa-sisa bangunan, yang terdapat di Jl Tegal Binangun, yang dikenal juga dengan sebutan Jalan Jepang ini. Di sini, selain bekas bak mandi, terdapat juga bekas landasan meriam penangkis serangan udara.

Sumber :

Muhamad Nasir. Sinar Harapan 2003

Selasa, 30 Juni 2009

LEGENDA PAHIT LIDAH DAN SI MATA-EMPAT

Tersebutlah sebuah danau yang menjadi saksi sejarah dua insan manusia yang bekelahi mengadu kekuatan mereka. Danau ini adalah saksi pertarungan dua pendekar bernama Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Danau ini terletak di Sumatera Selatan.

Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat adalah dua jawara gagah berani yang menjadi legenda terkenal bagi masyarakat Banding Agung. Mereka amat disegani lawan-lawannya. Baik si Pahit Lidah maupun si Mata Empat, keduanya merasa paling hebat di antara keduanya.

”Ha..ha..ha..sayalah yang paling hebat sejagat raya ini, tak ada yang bisa menandingiku”ucap si mata empat di depan umum ketika mempertunjukkan kehebatannya. ”Hei si Mata Empat..sombong sekali kau, apa belum tahu kehebatanku??” teriak si Pahit Lidah kepada si Mata Empat. Si Mata Empat pun menjadi geram dan rasanya ingin segera menghajar si Pahit Lidah. Namun niatnya tersebut diurungkan karena kalau berkelahi secara langsung tentu dia akan kalah dengan kutukan lidahnya yang pahit itu

”Baiklah, sekarang saya beri kelonggaran untukmu yang telah lancang kepadaku Pahit Lidah, saya akan membuktikan seberapa hebat kesaktianmu. lima hari dari sekarang di dekat Danau Ranau setelah matahari terbenam. Bagaimana apakah kau sanggup?” tanya si Mata Empat menantang si Pahit Lidah.

”Oke..dengan senang hati saya terima tantanganmu Mata Empat, lagipula aku sudah tak sabar ingin menghajar orang sombong macam kau!!” jawab si Pahit Lidah dengan lantang.

Akhirnya, karena ingin membuktikan siapa yang benar-benar lebih hebat di antara mereka berdua, mereka sepakat untuk bertemu dan mengadu kekuatan masing-masing.

Maka tibalah pada hari yang sangat menentukan itu. Mata Empat menggunakan permainan licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Caranya, secara bergiliran keduanya harus tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Lalu, bunga aren di atas akan dipotong oleh salah satu di antara mereka. Siapa bisa menghindar dari bunga dan buah aren yang lebat dan berat itu, dialah yang akan disebut jawara sakti. Setiap orang diberi kesempatan memotong tiga kali bila buah yang di jatuhkan belum mengenai musuh. Si Pahit Lidah tidak mengetahui kalau Mata Empat telah berbuat licik terhadapnya. Tapi si Pahit Lidah menerima saja tantangan Mata Empat tersebut.

Lalu dengan sistem undian yang telah mereka sepakati si Mata Empat mendapat giliran pertama. Sesuai namanya, si Mata Empat juga memiliki dua mata lain, yakni di belakang kepalanya.

Dengan secepat kilat si Pahit Lidah lalu memanjat pohon aren yang ada di tepi danau tersebut.

”Hei Mata Empat yang sombong terimalah ini, selamat tinggal untuk selama-lamanya.” ucap Pahit Lidah kepada Mata Empat.

Dengan tenangnya si Mata Empat menelungkup di bawah pohon. Cring…byar…buah aren berhasil di potong dan di jatuhkan oleh si Pahit Lidah.

Tentu saja si Mata Empat bisa melihat arah jatuhnya buah aren tersebut. mata di kepala mata empat bisa melihat ketika bunga aren jatuh meluncur ke ke arah Mata Empat. Dengan mudahnya si Mata Empat bisa menghindar dari runtuhan buah aren tersebut.

”Ha..ha..ha..ha..apakah hanya itu saja kemampuanmu hai pahit lidah” dengan sombong Mata empat mengejek si Pahit Lidah yang ada di atas pohon.

”Kurang ajar, ternyata kau belum mati juga” dengan kesal si Pahit Lidah memotong buah aren yang lebih besar. Tapi si Mata Empat dapat menghindar lagi dari jatuhan buah aren tersebut.

”Wahai Pahit Lidah saya kasih kesempatan sekali lagi untuk menunjukkan kemampuanmu” ujar Mata Empat dengan sombongnya. Dengan perasaan hampir putus asa, Pahit Lidah memotong buah aren yang lebh besar dari yang kedua. Tapi dengan kemempuan yang dimilikinya, Mata Empat bisa menghindar untuk ketiga kalinya dari jatuhan buah aren tersebut.

Dengan perasaan kecewa Pahit Lidah turun dari pohon aren tersebut. Kini giliran si Pahit Lidah untuk manjat pohon aren. Dengan secepat kilat juga si Mata Empat memanjat dan si Pahit Lidah sud ah menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon itu.

”Pahit lidah apakah kau sudah siap dengan kematianmu?”tanya Mata Empat kepada Pahit Lidah.

”Jangan banyak oceh kau. Cepat potong buahnya!”jawab Pahit Lidah.

Mata empat pun dengan alat yang telah di siapkannya memotong buah aren tersebut. Clazzz…gugusan buah are itu meluncur deras ke bawah.

Si pahit lidah tak bisa mengetahui hal itu. Badannya tetap berada persis di bawah luncuran itu. Ia tak menghindar.

”Akhhhh…” Pahit Lidah berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Buah aren yang besar dan berat tersebut mengenai tubuh si Pahit Lidah. Tubuhnya bersimbah darah dan ia tewas seketika secara mengenaskan.

”Ha..ha..ha..ternyata kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesaktianku.” Si Mata Empat senang, dan merasa puas. Ia bisa membuktikan pada semua orang, dirinyalah yang lebih sakti dari si Pahit Lidah.

Namun rasa ingiun tahunya muncul, mengapa lawannya itu mendapat julukan si Pahit Lidah? Benarkah lidahnya memang pahit? Lalu karena penasaran, ia cucukkan jarinya ke dalam mulut si pahit lidah yang sudah mati itu. Setelah itu, dicecapnya jarinya sendiri yang sudah terkena liur di Pahit Lidah.

”Benar, rasanya pahit sekali. Rasanya lebih pahit dari akar brotoali.”

Rupanya itu racun yang mematikan. Si Mata Empat pun mengerang-erang kesakitan memegangi tenggorokannya. Tapi apa mau dikata. Racun tersebut telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seketika itu juga tubuhnya membiru. Maka si Mata Empat pun juga tewas di tempat yang sama. Akibat terlalu sombong dan angkuh. Merasa dirinya paling hebat di dunia ini, padahal masih ada yang lebih hebat sejagat raya ini yaitu Allah SWT. Kedua jawara ini lalu dimakamkan oleh penduduk setempat di tepi Danau Ranau yang menjadi saksi sejarah pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat.


Sumber : Chor33’s Weblog

JEJAK RAJA-RAJA SRIWIJAYA

Misteri seputar kerajaan Sriwijaya yang jarang sekali dibahas. Hal itu dapat kita maklumi, mengingat cerita-cerita seputar Kerajaan Sriwijaya tidaklah mudah ditemukan seperti kerajaan-kerajaan lainnya di Nusantara ini.
Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti “kemenangan”
Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritime di Sumatera Selatan yang pada masa kejayaannya menguasai hampir sebagian Nusantara, sehingga sering disebut-sebut sebagai Negara pertama di Nusantara.

Kerajaan ini mulai jatuh pada tahun 1200 dan 1300 karena berbagai faktor, termasuk ekspansi kerajaan Majapahit.
Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George Coedès dari École française d'Extrême-Orient. Sekitar tahun 1992 hingga 1993, Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan, Indonesia).

HISTORIOGRAFI

Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Coedès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "Sanfoqi", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatra awal, dan kerajaan besar yang dapat mengimbangi Majapahit di timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.


Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Sanfotsi atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Melayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.

Bukti-bukti keberadaan kerajaan Sriwijaya daspat diketahui dari prastasi-prastasi yang ditemukan di daerah-daerah yang pernah menjadi wilayah Kerajaan Sriwijaya.

Prasastasi-prasastasi itu ditulis dengan menggunakan huruf Palawa dan berhasa Melayu Kuno.
  • Prasasti itu diantaranya adalah Prastasi Kedukan Bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palembang ditemukan di tepian Sungai Talang dekat Palembang
  • Prastasi Talang Tuo tanggal 23 Maret 684 Masehi ditemukan di daerah Talang Tuo sebelah barat Palembang di Palembang
  • Prastasi Telaga Batu abad ke-7 Masehi ditemukan dipinggiran kota Palembang di Palembang
  • Prastasi Kota Kapur tanggal 28 Februari 686 Masehi yang ditemukan dekat sungai Menduk di Pulau Bangka.
  • Prasasti Palas Pasemah abad ke-7 Masehi ditemukan ditepian Sungai Pisang di Lampung Selatan
  • Prasasti Karang Brahi abad ke-7 Masehi di Jambi
  • Prasasti Sojomerto abad ke-7 Masehi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah

Selain Prasasti tersebut diatas, masih ada beberapa prasati lainnya yang menerangkan Kerajaan Sriwijaya Berbahasa Sanskerta atau Tamil.
- Prasasti Ligor di Thailand yang ditemukan di Pantai Timur Thailand
- Prasasti Kanton di Kanton
- Prasasti Siwagraha
- Prasasti Nalanda di India
- Piagam Leiden di India
- Prasasti Tanjore di India
- Piagam Grahi
- Prasasti Padang Roco
- Prasasti Srilangka

Sumber berita Tiongkok

- Kronik dari Dinasti Tang
- Kronik Dinasti Sung
- Kronik Dinasti Ming
- Kronik Perjalanan I Tsing
- Kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua
- Kronik Tao Chih Lio oleh Wang Ta Yan
- Kronik Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei
- Kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma Huan

Sumber teramat penting lainnya diperoleh melalui catatan perjalanan seorang pendeta Budha dari China yang bernama I-Tsing.
Ia pernah mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 M dan tinggl selama enam bulan. Ia kembali lagi pada tahun 688 M dan tinggal selama 7 tahun. Selama di Sriwijaya, I-Tsing berhasil menerjemahkan beberapa buah kitab Budha dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa China.

Awal Berdirinya Dan Raja-Raja Yang Pernah Berkuasa Di Sriwijaya

Menurut Prasasti Kedukan Bukit, kekaisaran Sriwijaya didirikan pada tahun 683 M oleh Dapunta Hyang Çri Yacanaca (Dapunta Hyang Sri Jayanasa). Ia menjadi raja pertamanya dengan gelar Dapunta Hyang Sri Jayanegara. Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya mengalami masa keemasan. Jalur perdagangan antara Sriwijaya dan China berkembang pesat.
Dalam catatan Dinasty Tang dikatakan, bahwa pada abad ke-7, di Pantai Timur Sumatera Selatan telah berdiri kerajaan yang mereka sebut She-Li-Fo-She atau Sriwijaya. Semula Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minangga Tamwan (tanah kelahiran Dapunta Hyang).
Kemudian Dapunta Hyang mengadakan sebuah perjalanan suci dengan sebuah kapal besar. Dalam perjalannya, pria berdarah India Mongolia ini membawa 200.000 orang tentara (terutama tentara darat dan beberapa ratus kapal) dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu.
.

Kerajaan ini adalah pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tidak memperluas kekuasaannya diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500, akar Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang, Sumatra. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona utama - daerah ibukota muara yang berpusatkan Palembang, lembah Sungai Musi yang berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk pedagang Tiongkok. Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu lokal.

Pada tahun 680 di bawah kepemimpinan Jayanasa, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya.
Dapunta Hyang bersama pasukannya berhasil menaklukkan setiap wilayah yang disinggahinya kecuali Jawa Tengah.
Hal ini disebabkan karena pada masa itu, di Jawa Tengah ada sebuah Kerajaan yang bernama Kalingga (Holing) yang dipimpin seorang Ratu bernama Ratu Sima. Dapunta Hyang adalah teman baik dari Ratu Sima. Karena itulah Dapunta Hyang tidak berniat menguasai tanah Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Dalam perjalanan suci itu pula, Dapunta Hyang beserta pasukannya menaklukkan Kerajaan Melayu, Kerajaan Jambi Hulu dan menjadikan Pulau Bangka sebagai Pelabuhan Simpang Tiga, jalur pelayaran India-Indonesia-China. Setelah puas dengan masa kejayaannya, Dapunta Hyang memilih hidup mengasingkan diri sebagai pertapa dan konon Dapunta Hyang tidak pernah mati melainkan moksa menjadi seorang Resi.
Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya.

Berdasarkan prasasti Kota Kapur, imperium menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Kejayaan Kerajaan Sriwijaya berlanjut pada kepemimpinan dari seorang perwaris tahata dan dia bernama Dharma Setu.
Dharma Setu merupakan murid yang juga anak angkat dari Dapunta Hyang yang memilih untuk menjaga keperjakaannya, karena ia mempunya keyakinan kuat bahwa dengan menjaga keperjakaannya, kesaktiannya tidak akan berkurang melainkan bertambah. Raja Dharma Setu terus mengembangkan sayap hingga ke Semenanjung Melayu. Hal ini dibuktikan dengan adanya pangkalan armada angkatan laut Sriwijaya di Semenanjung Melayu tepatnya di daerah Ligor.
Ekspansi kerajaan ke Jawa dan semenanjung Melayu, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya.
Untuk mencegah hal tersebut, maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.
Pada masa pemerintahan Raja Dharma Setu, bala tentara Sriwijaya yang terkenal perkasa bukan hanya terdiri dari manusia saja melainkan para siluman-siluman yang juga turut menjadi angkatan perang dari bala tentara Sang Raja. Hingga saat ini pun tentara-tentara gaib tersebut tetap setia pada rajanya.

Sekitar tahun 850 M, di pulau Jawa (Jawa Dwipa) terjadi pemberontakan di dalam Kerajaan Mataram Kuno. Pemberontakan dipimpin oleh putera mahkota dari Raja Samaratungga yang bernama Balaputera Dewa. Akan tetap pemberontakan itu berhasil dipatahakan oleh Rakai Pikatan dan mau tak mau Balaputera Dewa harus melarikan diri.
Dipulau Sumatera (Swarna Dwipa) adalah tujuannya dan Kerajaan Sriwijaya masih pada masa kejayaannya hingga disegani kawan dan ditakuti lawan. Raja Dharma Setu yang ketika itu telah berusia lanjut mendengar kabar bahwa ada seorang pelarian dari Mataram Kuno yang ingin minta perlindungan dari negerinya.
Mengetahui orang itu adalah seorang putera mahkota, tentu saja dia menerima dengan tangan terbuka. Beliau juga melihat bakat terpendam dalam diri Balaputera Dewa yang membuatnya mengangkat murid dan juga sebagai anaknya sama seperti yang dilakukan Dapunta Hyang.
Setelah menguasai semua kesaktian dan ilmu kepemimpin oleh Raja Dharma Setu, Balaputera Dewa diangkat menjadi Raja Sriwijaya menggantikan dirinya.
Raja Dharma Setu yang telah lanjut usia itu mengikuti jejak Sang Guru sekaligus ayah angkatnya untuk menjadi pertapa.
Pada masa pemerintahan Balaputera Dewa, Kerajaan Sriwijaya terus membentangkan lagi sayap kerajaannya. Bukan hanya perekonomian saja yang berkembang pesat namun juga bidang pendidikan. Pada masa pemerintahan Raja Balaputera Dewa, banyak putera-puteri Kerajaan Sriwijaya yang menuntut ilmu agama Budha di perguruan tinggi Nalanda di Benggala, India.
Tahun 860 M, raja dari kerajaan Pala di Benggala, India memberikan sebidang tanah pada Raja Balaputera. Diatas tanah itu didirikan sebuah biara oleh Raja Balaputera Dewa untuk tempat tinggal putera-puteri Sriwijaya yang menuntut ilmu disana. Banyaknya putera-puteri Sriwijaya yang menjadi ahli agama Budha membuat Sriwijaya menjadi pusat ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan agama Budha dan ilmu bahasa sansekerta.
Banyak pendeta dari Tibet dan China yang belajar disana. Ini dibuktikan dari sebuah berita China yang ditulis oleh I-Tsing. Masih menurut I-Tsing, hampir setiap harinya para pelajar/pendeta dari Tibet dan China berdatangan ke Sriwijaya. Kehadiran mereka semakin memperkaya keberadaan pengetahuan tentang agama Budha.
Para pelajar/pendeta dari negeri seberang itu melakukan penelitian dan mempelajari ilmu yang ada pada waktu itu. I-Tsing sempat menganjurkan para pendeta China yang ingin belajar ke India sebaiknya terlebih dahulu mendapatkan pelajaran di Sriwijaya selama dua atau tiga bulan.
Sebab di Sriwijaya ada pendeta Budha yang masyur dan telah menjelajah lima negeri di India untuk menambah ilmunya. Ia bernama Sakyakirti. Beliau adalah salah seorang maha guru agama Budha di Sriwijaya. Atas bantuan seorang guru besar, agama Budha dari India y ang bernama Dharmapala, perguruan di Sriwijaya mencapai kemajuan pesat.
Pada masa itu, Sriwijaya dikenal sebagai pusat perdagangan, pusat penyeberangan agama Budha, dan juga sebuah negara maritim yang makmur berkat jasa raja-rajanya. Hingga pada masa pemerintahannya, Raja Balaputera Dewa pun Sriwijaya tetap memperluas kembali wilayah kekuasaannya. Sriwijaya menganut sistem politik ekspansif (perluasan kekuasaan).
Pada awal abad ke-9, Raja Balaputera Dewa dapat memperluas wilayah Sriwijaya. Wilayah itu meliputi Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan. Dalam kepemimpinaan Raja Balaputera Dewa, wilayah kekuasaan Sriwijaya semakin luas dan armada-armada perangnya terutama angkatan lautnya menjadi sangat besar dan kuat.
Raja Balaputera Dewa merupakan satu-satunya yang mewariskan tahtanya pada keturunannya. Dari anak ke cucunya hingga ke cicitnya yang bernama Ratu Dewayani. Pada masa itu Ratu Dewayani baru beranjak remaja namun kepintarannya dalam sistem kepemerintahan tak perlu diragukan lagi. Begitu juga kesaktiannya. Senjatanya berupa cakram emas sangat ditakuti lawan.
Untuk kedua kalinya, Sriwijaya tamu agung dari negeri seberang yaitu pulau Jawa. Tamu agung itu adalah seorang laki-laki gagah dan tampan. Beliau juga merupakan seorang bangsawan dari kerajaan di pulau Jawa.
Parameswara namanya, anak tertua dari Brewirabhumi yang merupakan seorang adipati dari Blambangan. Parameswara sengaja meninggalkan negerinya karena dirinya tak suka pada sifat ayahnya yang rakus akan kekuasaan.
Sang ayah menganggap dirinya paling pantas naik tahta kerajaan Majapahit dan ia sangat tidak terima ketika saudara lain ibunya yang bernama Kusumawardhani yang menjadi penguasaan di Majapahit.
Kedatangan Parameswara di Sriwijaya disambut baik oleh Ratu Dewayani dan tangan kanannya yang bernama Raden Sri Pakunalang yang merupakan panglima tertinggi di Kerajaan Sriwijaya. Hingga ahkhirnya Parameswara menjadi saudara angkat Raden Sri Pakunalang.
Parameswara tidak mempunyai jabatan apapun di Sriwijaya, namun dirinya membantu Raden Sri Pakunalang dalam menghadapi serangan-serangan dari luar terutama dari Kerajaan Cola yang dipimpin Raja Rajendra Cola Dewa.
Prestasi Parameswara di medan pertempuran sungguh luar biasa.
Dengan segenap ilmu kesaktian dan semangat juangnya yang tinggi Parameswara berhasil membunuh panglima-panglima perang musuh. Terlebih ketika Parameswara menjadi murid sosok gaib Dapunta Hyang. Hingga akhirnya kerajaan Cola mengutus ksatria terhebatnya untuk duel dengan ksatria dari Sriwijaya.
Colamandala namanya, seorang putera mahkota dan ksatria terhebat disana. Sedangkan kerajaan Sriwijaya diwakilkan oleh ksatria baru mereka yaitu Parameswara. Duel sengit pun terjadi dua orang ksatriaa, tetapi di duel tersebut menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam bertarung.
Pertarungan yang penuh dengan benturan ilmu-ilmu kanuragan tingkat tinggi dan dimenangkan oleh Parameswara. Sesuai perjanjian maka Kerjaan Cola menghentikan serangannya terhadap Kerajaan Sriwijaya.
Nama Parameswara semakin harum. Setiap penjuru Sriwijaya mengenal Parameswara hingga akhirnya beliau menjadi Raja Sriwijaya dengan gelar Cudamaniwarmadewa yang diberikan oleh Dapunta Hyang.
Masa pemerintahan Raja Cudamaniwarmadewa diisi dengan perdamaian dan kemakmuran bagi rakyat Sriwijaya dibawah kepimpinannya. Sriwijaya kembali mengulang masa kejayaannya.
Kabar diangkatnya Parameswara menjadi Raja Sriwijaya terdengar sampai ke telinga ibunya yang masih menetap di Blambangan.
Atas permintaan Parameswara, sang ibu akhirnya hijrah ke Sriwijaya serta adiknya yang bernama Raden Mas Kalirang. Parameswara merupakan anak yang berbakti pada ibunya. Walaupun sudah siap ke medan perang dengan pakaian perangnya, namun jika ibunya mengatakan "tidak" maka Parameswara mengurungkan niatnya.
Pada suatu ketika Raja Cudamaniwarmadewa sedang bertapa, tiba-tiba dirinya didatangi sosok gaib yang merupakan gurunya sendiri yaitu Dapunta Hyang.
"Hai, Parameswara! Ketahuilah sejak dahulu aku telah mengetahui bahwa ada agama terakhir dengan nabinya yang bernama Muhammad," ucap Dapunta Hyang.
"Maksud guru, saya harus memeluk agama itu?" Tanya Parameswara.
Dapunta Hyang tidak langsung menjawabnya, namun ia menunjukkan suatu arah yang tiba-tiba dari arah tersebut terlihat seberkas cahaya putih yang melesat cepat menuju Parameswara yang sedang duduk bersila. Setelah berhasil meraih cahaya yang sebenarnya berupa keris dari besi kuning itu barulah Dapunta Hyang berkata kembali.
"Parameswara, pada keris itu terdapat huruf arab gundul yang menceritakan tentang kebesaran Yang Maha Kuasa atas alam semesta ini. Kau telah mendapatkan Hidayah dari-Nya.."
Setelah kejadian itu, Parameswara sering bermimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia melihat kota Mekah dengan kebesaran-kebesaran Allah disana dan banyak hal-hal lainnya yang ia alami. Hingga pada suatu hari Dapunta Hyang kembali mendatangi Parameswara.
"Parameswara, mulai hari ini aku bukan lagi gurumu. Jodoh kita telah selesai," tutur Dapunta Hyang.
"Maksud guru?" Parameswara kebingungan.
"Pergilah ke pesisir Sungai Ogan. Disana kamu akan menemui seseorang yang telah menunggumu." Lanjut Dapunta Hyang.
"Siapa orang itu?" Tanya Parameswara penuh kebingungan.
"Seorang penyebar agama Islam dari Timur Tengah dan Beliau akan menjadi gurumu. Tapi ingat, jangan kau main-main dengannya karena ilmunya tak dapat ku lihat dengan mata bathinku, aku pun segan dengannya. Mengerti kau ?" Ucap tegas Dapunta Hyang.
"Mengerti, Raja Dapunta!" Jawab Parameswara.
Parameswara segera berangkat ke tempat yang dikatakan Dapunta Hyang, yakni pesisir Sungai Ogan. Tiba-tiba kedua matanya melihat sebuah gubuk dan hanya beberapa meter dari gubuk itu terlihat seorang kakek tua sedang sibuk membuat perahu. Parameswara segera mendekat dan bertanya pada orang tua itu.
"Orang tua, apa kau tahu tempat tinggal seorang yang berasal dari Timur Tengah?" Tanya Parameswara.
"Kau bertanya padaku?" Tanya orang tua itu.
"Tentu saja aku bertanya padamu!" Parameswara sudah mulai kesal.
"Dari penampilanmu, tentu kau bukan orang biasa. Tapi sayang kau tak punya sopan santu terhadap orang yang lebih tua. Lagi pula, buat apa kau mencari orang yang kau maksudkan itu?" Lanjut orang tua itu tetap penuh ketenangan.
"Lancang kau orang tua! Beraninya kau berbicara seperti itu di depan Raja Sriwijaya!" Berang Parameswara.
"Oooo.......ternyata kau Raja Sriwijaya. Maaf jika hamba berkata lancang. Hamba hanya orang biasa," orang tua itu menundukkan kepala memberikan hormat.
"Ya, benar! Aku Raja Cudamaniwarmadewa, Raja Sriwijaya!" Parameswara berkata dengan penuh percaya diri.
"Dau kau murid dari Dapunta Hyang?" Orang tua tersebut kembali bertanya.
"Darimana kau tahu?" Parameswara sungguh terkejut.
"Kau juga disuruh Dapunta Hyang untuk belajar agama Islam?" Lajut orang tua tersebut.
Parameswara sungguh terkejut. Dia tidak menyangka orang tua didepannya itu adalah orang yang dicari-carinya. Betapa malunya ia telah menyombongkan diri didepan orang yang diharapkan menjadi gurunya.
"Maafkan saya, Tuan! Saya bodoh sekali," tutur bijak orang otua yang mempunyai julukan Wali Putih.
Semenjak itu, Parameswara telah resmi menjadi murid dari Wali Putih yang juga telah meng-Islam-kan dirinya. Parameswara kini bernama Iskandar Zulkarnaen Alamsyah. Sebuah nama yang bernuansa Islam yang diberikan oleh Sang Guru.
Ia yang telah berganti namaa menjadi Iskandar Zulkarnaen Alamsyah itu menghabiskan hari-harinya untuk belajar agama Islam. Dan jejaknya diikuti oleh Raden Sri Pakunalang yang menjadi mualaf. Sejak saat itu, diantara mereka tidak ada batas raja dan panglimanya.
Dengan resminya Cudamaniwarmadewa menjadi muslim tentu saja membuat pro dan kontra dikalangan petinggi-petinggi istana. Para panglima perang seperti Pangling Bagus Karang, Panglima Bagus Sekuning, dan Panglima Tuan Junjungan mengikuti jejak raja menjadi mualaf.
Namun dikalangan menteri-menteri dan penasehat kerajaan mengecam tindakan sang raja, karena menurut mereka Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat Pendidikan Agama Budha. Demi menghindari perseturan dilingkungan kerajaan, maka sang raja melepaskan gelarnya sebagai Raja Sriwijaya bernama Cudamaniwarmadewa dan menegaskan kini namanya Iskandar Zurkanaen Alamsyah.
Bersama pengikut-pengikut setianya, pergi meninggalkan kerajaan. Baru saja beliau hendak melangkah melewati pintu gerbang, tiba-tiba seorang hulubalang kerajaan mencegat dan mencaci maki mereka. Hal itu tentu saja membuat murka mantan Raja Sriwijaya.
Dengan emosi yang memuncak, Iskandar Zulkarnaen Alamsyah menghentakkan kakinya ke bumi. Seketika itu juga alam seakan meluapkan amarahnya. Hujan badai, gempa bumi, kilat yang menyambar dan angin yang bertiup kencang tumpah menjadi satu ditambah meluapnya air laut yang meluluh lantakkan kota Sriwijaya.
Sebenarnya Iskandar Zulkarnaen Alamsyah sangat mencintai Sriwijaya. Namun apa boleh buat, dia tidak punya pilihan selain pergi meninggalkan Sriwijaya. Semenjak kejadian itu orang-orang Sriwijaya memanggilnya Raja Si Gentar Alam, yang artinya raja yang kesaktiannya mampu menggetarkan alam.
Iskandar Zulkarnaen Alamsyah atau Si Gentar Alam pergi meninggalkan kota Raja ke pesisir Malaka.
Ternyata disana juga telah masuk dan berkembang agama Islam. Nantinya Si Gentar Alam dan pengikut setianya berjumpa dengan pelaut setempat yang bernama Hang Tuah dan mereka merebut wilayah itu dari Sriwijaya dan mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Kesultanan Malaka.
Beliau mendirikan sebuah kesultanan yang bernama Kesultanan Malaka. Iskandar Zulkarnaen Alamsyah menjadi Raja pertama Kesultanan Malaka yang bergelar Sultan Iskandar Syah dan menikahi bangsawan setempat yang bernama Puteri Rambut Selaka.
Setelah ada penerus Sultan Iskandar Syah kembali ke Palembang. Kala itu Sriwijaya telah runtuh. Beilau bersama para pengikut setianya tinggal di sana hingga belia wafat dan dimakamkan di Bukit Siguntang (bukit yang tiba-tiba muncul setelah bencana alam di kota Sriwijaya).
Kembali ke masa Sriwijaya, setelah kepergian Iskandar Zulkarnaen Alamsyah, Kerajaan Sriwijaya mengalami kekosongan Tahta. Para menteri pemuka agama segera mengadakan pertemuan membahas siapa yang pantas menduduki tahta kerajaan setelah cukup lama berdiskusi mereka menganakt Sarjana Agama yang baru saja pulang dari India untuk menjadi Raja.
Nama asli beliau tidak diketahui. Maka resmilah beliau menjadi Raja Sriwijaya dengan gelar Raja Sri Sanggramawijayatunggawarman. Sayangnya, pada masa kepemimpinannya, Sriwijaya mengalami kemunduran. Banyak para pejabat yang koruptor dan menindas rakyat demi kepentingan mereka.
Hanya seorang panglima tertinggi serta bawahan-bawahannya saja yang masih setia dengan Sang Raja.
Nama Panglima itu adalam Panglima Jairo. Kerapuhan Sriwijaya ternyata tercium oleh Kerajaan Cola di India. Kesempatan emas itu tidak dilepaskan oleh Raja dari Kerajaan Cola.
Mereka menguasai Sriwijaya secara besar-besaran. Serangan Kerajaan Cola membuat Sriwijaya semakin rapuh di tambah ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari yang tiada henti sejak dulu hingga akhirnya Kerajaan Singasari sendiri runtuh.
Sriwijaya benar-benar runtuh ketika kerapuhan mereka ditambahi oleh pasukan Patih Gajah Mada dari Majapahit yang membuat Raja Sriwijaya berhasil ditawan. Namun hal itu tidak membuat Panglima Jairo mundur. Bersama para prajuritnya, Panglima Jairo terus berperang walaupun harus gugur di medan perang.

BUKIT SIGUNTANG
Bukit Siguntang merupakan salah satu tempat bersejarah bagi Kerajaan Sriwijaya khususnya pada pemerintahan Raja Cudamaniwarmadewa atau yang akrab disebut dengan nama Raja Si Gentar Alam.
Selain itu, Bukit Siguntang juga merupakan pusat kekuatan gaib di Sumetera Selatan. Pasalnya Bukit Siguntang adalah tempat Raja Si Gentar Alam memperdalam ilmu kesaktiannya dan juga merupakan tempat kesukaan Sang Raja. Begitu cintanya Raja Si Gentar Alam terhadap Bukit Siguntang, sehingga Sang Raja meminta dimakamkan di bukit tersebut.
Jika dirasakan dengan deteksi bathin kekuatan mistis di Bukit Siguntang begitu kuat. Hal itu karena di Bukit Siguntang tertanam benda-benda pusaka milik Sang Raja. Pusaka-pusaka itu antara lain keris Si Gentar Alam, tombak Si Gentar Alam, Panah Seribu Mata, dan juga harta peninggalan Sang Raja yang jumlahnya akan membuat mata siapapun menjadi terbelakan jika melihatnya.
Kata juru kunci Bukit Siguntang, pernah di bukit tersebut dijadikan ajang uji nyali oleh salah satu stasiun televisi swasta. Karena mereka tidak mengindahkan kata-kata sang juru kunci tersebut. Akhirnya terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan oleh kru dan si peserta uji nyali tersebut.
Menurut hasil dialog bathin Misteri dengan sosok gaib Raja Si Gentar Alam, bahwa harta karun miliknya itu mampu menutupi hutang-hutang negara ini. Namun tidak sembarang orang mampu menarik harta karun karena harta karun itu sudah ada yang "berhak".
Dan jika ada orang yang nekad untuk mengangkat/mencuri harta karun tersebut maka Sang Raja (juga keturunannya) tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada pencurinya. Selain itu Bukit Siguntang juga cook sekali menjadi tempat untuk memperdalam ilmu kesaktian terutama ilmu kanuragan.
Sebab aura mistis Bukit Siguntang didominasi sepenuhnya oleh aura Raja Si Gentar Alam yang sama sekali tidak memiliki ilmu Pengasihan (hal itu Misteri dapat dari hasil dialog bathin dengan sosok gaib Raja Si Gentar Alam). Walaupun di bukit itu juga terdapat aura pengasihan dari sosok gaib Puteri Kembang Dadar yang merupakan anak angkat dari Raja Si Gentar Alam.
Namun satu hal yang perlu diingat, Bukit Siguntang memang diselimuti kabut atau aura mistis yang sangat kuat dan cocok untuk mendalami ilmu kesaktian, kiranya semua kembali berpulang kepada kehendak Allah SWT. Begitu saja pesan dari Raja Si Gentar Alam pada Misteri sewaktu dialog batin.

SUNGAI MUSI

Sungai Musi merupakan salah satu sungai terbesar di Sumatera Selatan. Sungai Musi juga menjadi pintu gerbang dan kebanggaan masyarakat kota Palembang. Selain itu Sungai Musi merupakan jalur perdagangan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga kini. Banyak warga Kota Palembang dan sekitarnya yang menggantungkan hidupnya di sungai yang membelah Kota Palembang itu.
Saat ini pemerintah Kota Palembang telah melakukan perubahaan besar terdapat keindahan sungai yang legendaris itu. Hal itu terbukti dari banyaknya dibangun tempat-tempat untuk bersantai di tepian sungai yang legendaris itu.
Hal itu terbukti dari banyaknya dibangun tempat-tempat untuk bersantai ditepian sungai itu. Misteripun merasakan kedamaian dihati saat bersantai ditepian Sungai Musi. Selain itu, Sungai Musi juga terkenal akan keangkerannya. Telah beberapa kali Majalah Misteri kesayangan kini memuat tulisan seputar keangkeran Sungai Musi.
Sungai tersebut dikuasai oleh sosok gaib yang namanya tak asing lagi bagi warga Kota Palemgbang. Sosok gaib itu bernama Raden Tokak. Raden Tokak yang berwujud buaya besar berwarna hitam itu merupakan bagian dari tentara gaib Kerajaan Sriwijaya.
Raden Tokak adalah anak dari Ratu Buaya yang bernama Ratu Sangklang yang berkuasa di Sungai Ogan, di desa Pemulutan, Ogan Komering Ilir. Raden Tokak juga saudara kandung dari Raden Kuning, sesosok buaya gaib yang besar dan berwarna kuning. Bedanya Raden Tokak adalah hasil dari perkawinan Ratu Sangklang dengan soerang manusia penganut ilmu buaya.
Pusat Kerajaan Raden Tokak berada tak jauh dari Jembatan Ampera. Berbeda dengan suadara kandungnya yang satu lagi bernama Raden Kedal. Raden Kedal adalah anak bungsung dari Ratu Sangklang, sosok Raden Kedal berupa buaya besar dan berwarna putih.
Raden Kedal beserta isterinya bermukim di bawah jembatan Musi Dua. Saat ini Raden Kedal mendampingi keturunan Raja Si Gentar Alam. Selain dihuni oleh buaya-buaya gaib, Sungai Musi mempunyai cerita yang tak kalah serunya. Sungai Musi adalah tempat bertapanya Raja Pertama kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang.
Raja Dapunta Hyang menjadi Sungai Musi tempat bertapanya untuk memperdalam ilmu kesaktian. Hebatnya lagi, Raja Dapunta Hyang bertapa bukan seperti Tapa Kumkum yang hanya berendam di sungai, melainkan tapa yang dilakukan Raja Dapunta Hyang dilakukan di dasar sungai yang dalamnya tidak hanya sekedar lima sampai sepuluh meter saja.

SUNGAI OGAN
Sama seperti Sungai Musi, Sungai Ogan juga memiliki cerita seputar Kerajaan Sriwijaya. Sungai Ogan memiliki cerita seputar kerajaan Sriwijaya. Sungai Ogan merupakan tempat bersandarnya kapal-kapal perang dan kapal-kapal angkut tentara Kerajaan Sriwijaya.
Tepian Sungai Ogan menjadi tempat pelatihan bagi para tentara Kerajaan Sriwijaya yang gagah perkasa. Sungai Ogan kini dikuasai oleh Raden Kuning yang menggantikan ibunya yang bernama Ratu Sangklang, semenjak sang ibu mendampingi keturunan Raja Si Gentar Alam.
Penghuni-penghuni gaib Sungai Ogan, rata-rata telah memeluk agama Islam. Karena Sungai Ogan merupakan tempat berlabuhnya para Walilullah dari Baghdad pada umum ya yang menyebarkan agama Islam di bumi Sriwijaya. Para walilullah penyebar agama Islam dari Timur Tengah tersebut rata-rata bermukim di tepian Sungai Ogan.
Konon penyebaran agama Islam di Bumi Sriwijaya berpusat di tepian Sungai Ogan. Para walilullah tersebut membangun pemukiman yang akhirnya menjadi sebuah desa yang kini bernama Desa Pemulutan.

PENINGGALAN-PENINGGALAN SEJARAH
Kerajaan Sriwijaya yang didirikan pada tahun 638 M oleh Dapunta Hyang telah mengenal seni ukir dan pahat. Hal ini terbukti dari peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berupa prasasti-prasasti dan patung-patung yang bernuansa bercorak agama Budha.
Raja Sriwijaya yang gemar akan seni ukir dan pahat adalah Raja Balaputeradewa. Terbukti dari hampir setiap prasasti dan patung-patung yang ditemukan merupakan peninggalan atau dibuat pada masa Raja Balaputeradewa.
Dari hasil dialog batin Misteri dengan Raja Balaputeradewa, Misteri mengetahui bahwa sosok gaib Sang Raja masih sering mengunjungi peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada masa dirinya berkuasa.
Berbeda dengan Raja Si Gentar Alam. Beliau lebih suka dengan alam. Maka tak heran jika peninggalan-peninggalan beliau berupa ukiran-ukiran yang konon dibuatnya dengan ilmu kesaktiannya dengan menghentakkan kakinya ke bumi. Bukit-bukit itu antara lain Bukit Siguntang di kota Palembang, Bukit Saiyak di Ogan Komering Ilir, dan Bukit Jempol di Lahat.
Lain raja, lain pula kegemarannya. Raja Dapunta Hyang tidak begitu banyak meninggalkan prasasti-prasasti ataupun peninggalan-peninggalan lainnya. Itu disebabkan karena semasa pemerintahannya, Dapunta Hyang lebih suka menjajah negeri-negeri di sekitar kerajaannya.
Yah, perang memang suatu kegemarannya dan prestasinya juga mengagumkan, Dapunta Hyang belum pernah merasakan kekalahan di medan perang.

OLEH : ARYYA

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah nama kerajaan yang tentu sudah tidak asing, karena Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada waktu itu (abad 7 - 15 M). Perkembangan Sriwijaya hingga mencapai puncak kebesarannya sebagai kerajaan Maritim. Sumber-sumber sejarah kerajaan Sriwijaya selain berasal dari dalam juga berasal dari luar seperti dari Cina, India, Arab, Persia.
Kerajaan Sriwijaya berpusat di daerah yang sekarang dikenali sebagai Palembang di Sumatra Pengaruhnya amat besar di atas semenanjung malayasia dan Pilipina. Kuasa Sriwijaya merosot pada abad ke-11.Kerajaan Sriwijaya mulai ditakluk berbagai kerajaan Jawa, pertama oleh kerajaan Singosari (Singhasari) dan akhirnya oleh kerajaan Kerajaan Majapahit. Malangnya, sejarah Asia Tenggara tidak didokumentasikan dengan baik. Sumber sejarahnya berdasarkan laporan dari orang luar, prasasti dan penemuan arkaelogi, artifak seperti patung dan lukisan, dan hikayat.
Pengaruh Budaya
Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India , pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudiannya diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana.Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu menerusi perdagangan dan penaklukan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo Barat.Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra menerusi Aceh yang telah disebarkan menerusi perhubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Majapahit, Paramisora , memeluk agama Islam dan berhijrah ke Tanah Melayu di mana dia telah mendirikan kesultanan Melaka. Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan Melayu dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1025 , Sriwijaya telah diserbu kerajaan Cholas dari India. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah hilang kuasa monopoli ke atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok -India . Dengan itu, kemewahan Sriwijaya menurun. Kerajaan Singhasari yang berada di bawah naungan Sriwijaya melepaskan diri daripadanya. Pada tahun 1088 kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berangsur hingga 2 abad.
Sumber-Sumber Dari Dalam Negeri
Sumber dari dalam negeri berupa prasasti yang berjumlah 6 buah yang menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa, serta telah menggunakan angka tahun Saka. Untuk mengetahui keberadaan prasasti tersebut, simaklah uraian materi berikut ini!
1. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Kedukan Bukit, di tepi Sungai Talang dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Isi prasasti tersebut menceritakan perjalanan suci/Sidayatra yang dilakukan Dapunta Hyang, berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara sebanyak 20.000 orang. Dari perjalanan tersebut berhasil menaklukkan beberajpa daerah.
2. Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat kota Palembang berangka tahun 606 Saka / 684 M. Prasasti ini menceritakan pembuatan Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana
3. Prasasti Telaga Batu ditemukan di Telaga Batu dekat Palembang berangka tahun 683 M.
4. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur pulau Bangka berangka tahun 608
Keempat Prasasti yang disebut terakhir yaitu Prasasti Telaga Batu, Kota Kapur, Karang bukit, dan Palas Pasemah menjelaskan isi yang sama yaitu berupa kutukan terhadap siapa saja yang tidak tunduk kepada raja Sriwijaya.
Sumber-Sumber Prasasti
Sumber yang berupa prasasti ditemukan di Semenanjung Melayu berangka tahun 775 M yang menjelaskan tentang pendirian sebuah pangkalan di Semenanjung Melayu, daerah Ligor. Untuk itu prasasti tersebut, diberi nama Prasasti Ligor. Prasasti berikutnya ditemukan di India di kota Nalanda yang berasal dari abad ke 9 M. Prasasti tersebut menjelaskan pendirian Wihara oleh Balaputradewa raja Sriwijaya.
Sumber Berita Asing
Di samping prasasti-prasasti, keberadaan Sriwijaya juga diperkuat dengan adanya beritaberita Cina maupun berita Arab.
Berita Cina, diperoleh dari I-Tshing seorang pendeta Cina yang sering datang ke Sriwijaya sejak tahun 672 M, yang menceritakan bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang menguasai agama seperti di India dan di samping itu juga, berita dari dinasti Sung yang menceritakan tentang pengiriman utusan dari Sriwijaya tahun 971 - 992 M.Nama kerajaan Sriwijaya dalam berita Cina tersebut, disebut dengan Shih-lo-fo-shih atau Fo-shih, sedangkan dari berita Arab Sriwijaya disebut dengan Zabag/Zabay atau dengan sebutan Sribuza. Dari berita-berita Arab dijelaskan tentang kekuasaan dan kebesaran serta kekayaan Sriwijaya.
Demikianlah bukti-bukti tentang sumber dari luar negeri yang menjelaskan keberadaan Sriwijaya, sehingga melalui sumber-sumber tersebut dapat diketahui perkembangan Sriwijaya dalam berbagai aspek kehidupan.

Kehidupan Politik
Dalam kehidupan politik. Raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga, dengan pusat kerajaannya ada 2 pendapat yaitu pendapat pertama yang menyebutkan pusat Sriwijaya di Palembang karena daerah tersebut banyak ditemukan prasasti Sriwijaya dan adanya sungai Musi yang strategis untuk perdagangan.
Sedangkan pendapat kedua letak Sriwijaya di Minangatamwan yaitu daerah pertemuan sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan yang diperkirakan daerah Binaga yaitu terletak di Jambi yang juga strategis untuk perdagangan. Dari dua pendapat tersebut, maka oleh ahli menyimpulkan bahwa pada mulanya Sriwijaya berpusat di Palembang. Kemudian dipindahkan ke Minangatamwan.
Untuk selanjutnya Sriwijaya mampu mengembangkan kerajaannya melalui keberhasilan politik ekspansi/perluasan wilayah ke daerah-daerah yang sangat penting artinya untuk perdagangan. Hal ini sesuai dengan prasasti yang ditemukan Lampung, Bangka, dan Ligor. Bahkan melalui benteng I-tshing bahwa Kedah di pulau Penang juga dikuasai Sriwijaya.
Dengan demikian Sriwijaya bukan lagi sebagai negara senusa atau satu pulau, tetapi sudah merupakan negara antar nusa karena penguasaannya atas beberapa pulau. Bahkan ada yang berpendapat Sriwijaya adalah negara kesatuan pertama. Karena kekuasaannya luas dan berperan sebagai negara besar di Asia Tenggara. Kehidupan EkonomiKerajaan Sriwijaya memiliki letak yang strategis di jalur pelayaran dan perdagangan Internasional Asia Tenggara. Dengan letak yang strategis tersebut maka Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan menjadi Pelabuhan Transito sehingga dapat menimbun barang dari dalam maupun luar.Dengan demikian kedudukan Sriwijaya dalam perdagangan internasional sangat baik. Hal ini juga didukung oleh pemerintahan raja yang cakap dan bijaksana seperti Balaputradewa. Pada masanya Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat yang mampu menjamin keamanan di jalurjalur pelayaran yang menuju Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di wilayah kekuasaan Sriwijaya tersebut.
Dengan adanya pedagang-pedagang dari luar yang singgah maka penghasilan Sriwijaya meningkat dengan pesat. Peningkatan diperoleh dari pembayaran upeti, pajak maupun keuntungan dari hasil perdagangan dengan demikian Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan yang besar dan makmur.

Kehidupan sosial
Masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti.Di samping itu juga pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini tertera dalam prasasti Nalanda. Dari prasasti ini diketahui pula raja Sriwijaya yaitu Balaputra Dewa mempunyai hubungan erat dengan raja Dewa Paladewa (India). Raja ini memberi sebidang tanah untuk asrama pelajar dari Sriwijaya. Sebagai penganut agama yang taat maka raja Sriwijaya juga memperhatikan kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam Prasasti Talang Tuo) dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya sampai sekarang dapat diketahui melalui peninggalanpeninggalan suci seperti stupa, candi atau patung/arca Budha seperti ditemukan di Jambi, Muaratakus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang).Kebesaran dan kejayaan Sriwijaya akhirnya mengalami kemunduran dan keruntuhan akibat serangan dari kerajaan lain.
• Serangan pertama dari Raja Dharmawangsa dari Medang, Jatim tahun 990 M. pada waktu itu raja Sriwijaya adalah Sri Sudarmaniwarmadewa. Walaupun serangan tersebut gagal tetapi dapat melemahkan Sriwijaya.
• Serangan berikutnya datang dari kerajaan Colamandala (India Selatan) yang terjadi pada masa pemerintahan Sri Sangramawijayatunggawarman pada tahun 1023 dan diulang lagi tahun 1030 dan raja Sriwijaya ditawan.
• Tahun 1068 Raja Wirarajendra dari Colamandala kembali menyerang Sriwijaya tetapi Sriwijaya tidak runtuh bahkan pada abad 13 Sriwijaya diberitakan muncul kembali dan cukup kuat sesuai dengan berita Cina.
• Keruntuhan Sriwijaya terjadi pada tahun 1477 ketika Majapahit mengirimkan tentaranya untuk menaklukan Sumatera termasuk Sriwijaya.

PARAMESWARA RAJA PENDIRI KERAJAAN MALAKA

Seperti kata seorang pelaut terkenal yang bernama DUARTE BARBOSA “He who is lord of Malcca has his hand on the throat of Venice” (Siapapun yang menguasai Malaka, maka dia dapat menguasai perdagangan dunia).
Pada rubrik Jelajah Misteri edisi 392 telah dikisahkan sedikit tentang Parameswara yang melapaskan tahtanya sebagai raja di Sriwijaya.
Kali ini Misteri ingin mengisahkan perjalanan panjang Parameswara dalam mendirikan sebuah kerajaan Islam yang baru dan diberi nama Kasultanan Malaka. Selamat mengikuti!


SEJARAH MALAKA


Kesultanan Malaka adalah kesultanan Melayu Islam yang terdapat di wilayah penyempitan selat di Semenanjung Melayu. Sejak zaman Sriwijaya, Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat trategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.
Setiap harinya kapal-kapal dari negeri asing berdatangan dan singgah di
sana. Tentu saja kedatangan para pelaut-pelaut asing tersebut membuat Semenanjung Melayu tersebut menjadi wilayah yang tumbuh dengan pesat.
Hal itu terjadi karena para pelaut-pelaut asing tersebut datang dengan membawa berbagai macam barang-barang yang mereka dagangkan. Maka jadilah Semenanjung Melayu (diwilayah bagian Malaka) menjadi sebuah pelabuhan sekaligus Bandar Raya.
Banyak negeri-negeri lain yang menginginkan Semenanjung Melayu masuk dalam wilayah kekuasaannya, mengingat wilayah Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat strategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.
Namun apa daya, angkatan perang kerajaan Sriwijaya sangat kuat dan susah ditaklukkan kala itu. Apalagi Raden Sri Pakunalang sebagai Panglima Tertinggi pada masa Ratu Dewayani dan Raja Cudamaniwarnadewa berkuasa sangat ahli akan stategis perang.
Tak hanya negeri-negeri lain yang ingin menguasai Semenanjung Melayu, penduduk asli pun sangat ingin memerdekakan tanah kelahirannya. Akan tetapi setiap daya dan upaya mereka selalu saja gagal ditangan prajurit-prajurit kerajaan Sriwijaya.
Hingga pada masa Raja Sri Sanggranawijayatunggawarman berkuasa di Sriwijaya. Semenanjung Melayu lepas dari tangan Sriwijaya. Uniknya Semenanjung Melayu merdeka berkat kerja keras seorang mantan raja Sriwijaya.
Parameswara namanya atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah, ketika beliau telah memeluk agama Islam. Berhasil merebut Semenanjung Melayu dari tangan Sriwijaya, dan mendirikan sebuah kerajaan Islam yang diberinama Kesultanan Malaka.
Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah menjadi raja pertamanya dengan gelar Sultan Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka mengalami masa kejayaan. Negeri Malaka menjadi negara Islam yang makmur.
Dengan Panglima tertinggi, Panglima Tuan Junjungan serta si kembar Panglima Bagus Karang dan Panglima Bagus Sekuning. Negeri Malaka selalu berhasil mengalahkan para penjajah seperti negeri
Siam dan Majapahit. Dan tak ketinggalan juga jasa seorang laksamana angkatan laut bernama Hang Tuah.
Dikarenakan suatu hal, Sultan Iskandar Syah memutuskan kembali ke Lembang Melayu (
Palembang). Kala itu Sriwijaya masih ada, namun tidak memiliki kedaulatan. Kemudian kedudukan raja digantikan oleh penerusnya dengan gelar Sultan Mayat Iskandar Syah (1414-1424 M).
Pada tahun 1424 M, Kesultanan Malaka di perintah oleh Sultan Muhammad Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka semakin maju sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dari berbagai negeri. Sultan Muhammad Iskandar Syah digantikan oleh putera bungsunya yang bernama Parameswara Dewa Syah.
Parameswara Dewa Syah menjadi raja dengan gelar Sultan Abu Syahid. Namun, ia hanya memerintah Malaka hanya satu tahun saja (1445-1446 M). Parameswara Dewa Syah terbunuh dalam perebutan kekuasaan oleh sepupunya yang bernama Mudzaffar.
Ia memerintah Malaka dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah (1446-1458 M). Kemudian ia digantikan puteranya yang ketika naik tahta bergelar Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M). Kesultanan Malaka kemudian dipimpin oleh Sultan Alaudin Riayat Syah (1477-1488 M).
Pada tahun 1488 M, Malaka dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah. Sayangnya Sultan Mahmud Syah sangat mewarisi sifat kakek buyutnya (Sultan Mudzaffar Syah) yang tamak dan serakah. Tahun 1509 M, Diego Lopez de Sequiera dari kerajaan Portugis tiba di Malaka dengan rombongan sebanyak 18 kapal. Rombongan dari Portugis (
Portugal) ini merupakan rombongan orang Eropa pertama yang tiba di Asia Tenggara.
Sayangnya, kelakukan orang-orang Eropa ini sangat tidak terpuji. Mereka sering berbuat onar terutama mengganggu para gadis. Atas usulan penasehat kerajaan, maka Sultan Mahmud Syah memerintahkan prajuritnya untuk mengusir orang-orang Eropa tersebut dan berhasil menangkap 20 orang dari mereka.
Pada 10 Agustus 1511, armada laut Portugis yang besar dari
India menyerang Malaka. Armada perang yang beasr tersebut di pimpin oleh Alfonso d’ Albuquerque. Terjadilah peperangan selama 10 hari hingga akhirnya Malaka jatuh ketangan Portugis.
Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke pantai timur Semenanjung Melayu, tepatnya daerah Pahang. Maka habislah sudah masa Kesultanan Malaka yang dibangun oleh Parameswara.


PERJALANAN MENUJU NEGERI BARU


Konon Bukit Jempol, merupakan tempat yang bersejarah dalam usaha merebut dan membangun Malaka. Di bukit Jempol-lah Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah mendapat petunjuk dari Sang Maha Pencipta sebelum menuju wilayah di Semenanjung Melayu itu.
Setelah meninggalkan ibukota Sriwijaya, Parameswara beserta pengikut-pengikut setianya berangkat menuju Bukit Jempol menaiki sebuah kapal yang sangat legendaris yang bernama Kapal Lancang Kuning.
Berangkat dari sungai Musi hingga memasuki sungai Lematang. Rombongan Parameswara dikawal oleh sosok gaib Ratu Sangklang beserta buaya-buaya siluman yang merupakan prajurit-prajuritnya.
Setibanya di Bukit Jempol, Parameswara bertemu sosok gaib Dhapunta Hyang (ada kisah yang menceritakan bahwa Bukit Jempol merupakan candi yang dibuat Parameswara ketika menjadi raja di Sriwijaya. Candi alami tersebut sengaja dibuat atas permintaan sosok gaib Dhapunta Hyang sebagai tempat pertapaannya).
Setelah mendapatkan wejangan dari sosok gaib yang pernah menjadi gurunya itu, Parameswara beserta rombongan, berlayar menuju Timur Tengah. Kepergian Parameswara diiringi hingga ke lautan lepas oleh puluhan kapal angkatan laut Sriwijaya. Banyak rakyat Sriwijaya yang menangisi kepergian mantan Raja Sriwijaya itu.
Dalam perjalanan menuju Timur Tengah, Parameswara beserta rombongan, singgah di Temasik (Singapura) untuk beberapa waktu. Di Temasik, Parameswara dan kapal perangnya dari angkatan laut kerajaan Sriwijaya, sebanyak delapan buah yang bersenjatakan lengkap. Mereka merapat di perairan dangkal.
Ternyata di dalam salah satu kapal tersebut, terdapat salah seorang yang tidak asing lagi bagi Parameswara ketika dirinya menjadi raja di Sriwijaya. Dan orang tersebut adalah Panglima Jairo.
Panglima Jairo menceritakan pada Parameswara, bahwa kini telah diangkat raja baru yang bergelar Raja Sri Sanggramawijayatunggawarman. Tapi sayangnya, raja yang satu ini hanyalah sebagai boneka. Dan kendali pemerintahan di pegang sepenuhnya oleh para menteri.
Parahnya lagi, para menteri tersebut memiliki tujuannya masing-masing tanpa memikirkan negera dan rakyatnya. Panglilma Jairo pun bercerita panjang lebar pada orang yang masih dianggapnya sebagai rajanya yakni Parameswara.
Hati Parameswara terasa perih mendengar cerita dari Panglima Jairo yang baru saja diangkat sebagai Panglima Tertinggi menggantikan Raden Sri Pakunalang yang mengikuti jejak gurunya (Wali Putih) melanglang buana menyebarkan ajaran-ajaran Islam.
Walau tidak begitu lama memerintah di Sriwijaya, namun negeri Sriwijaya sangatlah dicintainya. Namun ada satu hal yang lebih menyakitkan terutama bagi Panglima Jairo. Panglima Jairo diutus oleh Raja Sriwijaya untuk memburu Parameswara yang menurut para menteri dapat menjadi ancaman bagi kerajaan Sriwijaya.
Mendengar cerita dari Panglima Jairo, tentu saja membuat Parameswara marah besar, terlebih ketika sang panglima mengatakan bahwa dirinya saat ini sedang dalam tugas untuk memburu dirinya beserta para pengikutnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak mungkin dilakukan bagi seorang Panglima Jairo.
“Palinglima Jairo, kini aku telah dihadapanmu. Mengapa kau belum menjalankan tugas dari rajamu?” Tanya Parameswara dengan nada yang halus.
Tiba-tiba Panglima Jairo bersujud sambil menitikkan air mata. Dia berkata; “Maafkan diriku Tuan Raja. Bagiku Tuan masih rajaku, Raja Sriwijaya.”
Parameswara menjadi terharu mendengar perkataan Panglima Jairo. Terlebih ketika dirinya melihat seluruh prajurit dan awak kapal ikut bersujud dihadapannya tanpa terkecuali. Melihat keadaan tersebut Parameswara berkata.
“Panglima Jairo....Tinggallah dulu disini beberapa hari sambil memikirkan langkah selanjutnya.”
“Baiklah Tuan Raja.” Ucap Panglima Jairo.
Setiap malamnya, Parameswara menjalankan shalat Tahajjud memohon petunjuk-Nya. Pada hari ke-3 usai shalat Tahajjud, Parameswara bermimpi di datangi oleh gurunya yang berjulukan Wali Putih. Dalam mimpi itu Wali Putih berkata;
“Muridku....tundalah dulu niatmu ke
Baghdad untuk berguru pada saudaraku. Saranku, pergilah ke Semenanjung Melayu. Tepatnya wilayah yang terdapat penyempitan selat dan tumbuh pepohonan yang disebut oleh penduduk setempat dengan sebutan Malaka. Agama Allah telah masuk disana, Insya Allah kau akan berhasil.”
Setelah bermimpi aneh tersebut, Parameswara beserta panglima-panglima setianya juga Panglima Jairo segera menyusun rencana. Setelah melalui diskusi yang cukup lama, maka Parameswara memutuskan, bahwa Panglima Jairo beserta armada perangnya kembali ke Ibukota Sriwijaya dan melaporkan bahwa mereka tidak berhasil menemukan dirinya.
Akan tetapi, Panglima Jairo menolak dengan penuh rasa hormat. Dan berkata; “Biarlah saya pulang dengan dua kapal saya. Kapal yang lain beserta prajurit ikut Tuan Raja dalam usaha merebut Semenanjung Melayu nanti.”
“Benar Tuan Raja. Kita butuh kapal-kapal itu.” Ujar Panglima Tuan Junjugan yang menyambung ucapan Panglima Jairo.
Akhirnya Parameswara menyetujui rencana panglima-panglima itu. Panglima Jairo kembali ke Sriwijaya dengan alasan mereka berhasil dikalahkan Parameswara beserta pengikutnya. Sedangkan enam kapal lainnya berangkat menuju Semenanjung Melayu bersama Parameswara.
Setibanya dikota Raya, Panglima Jairo segera menghadap dan melaporkan kegagalannya dalam memburu Parameswara. Untunglah Raja Sanggramawijayatunggawarman adalah sosok raja yang berhati lembut. Mendengar kegagalan Panglima Jairo, sang raja hanya berkata, “Dia (Parameswara) memang orang yang hebat dan juga sakti.”
Parameswara beserta pengikutnya yang telah bertambah jumlahnya, segera menuju Semenanjung Melayu. Keenam kapal perang yang tersebut, berhenti di suatu tempat di Semenanjung Melayu. Sedangkan kapal Lancang Kuning yang membawa Parameswara, meneruskan perjalanan menuju wilayah yang kelak bernama Malaka.
Namun diperjalanan, kapal Lancang Kuning dihadang dua buah kapal yang ternyata adalah kapal para perampok yang sering merampok para pelaut dan menjadi buruan-buruan tentara Sriwijaya.
Mengetahui perjalanannya dihadang oleh perampok, Parameswara segera melompat ke salah satu kapal perampok tersebut dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Dengan ilmu-ilmu kanuragan miliknya, para perampok itu dihabisinya semua. Sedangkan para perampok di kapal yang lain dibantai oleh si kembar Panglima Bagus Karang dan Panglima Bagus Sekuning. Yang konon mampu berubah wujud menjadi macan kumbang (Panglima Bagus Karang) dan macan loreng (Panglima Bagus Sekuning).
Ternyata aksi Parameswara dan kedua pengikut setianya itu disaksikan oleh penduduk setempat yang rata-rata adalah nelayan. Mereka takjub melihat kesaktian Parameswara dan kedua pengikutnya itu.
Tanpa kesulitan yang berarti, Parameswara dan kedua panglimanya itu berhasil menumpas para perampok yang sering merasahkan para pelaut. Parameswara dengan kapal Lancang Kuningnya merapat di daratan. Mereka mendapat sambutan meriah dari penduduk di pesisir Semenanjung Melayu itu.
Parameswara pun berkenalan dengan para penduduk setempat yang dipimpin oleh seorang kepada adat. Dari kepala adat yang oleh penduduk mereka sebut dengan nama Hang Tuah. Di ketahui bahwa tamu yang datang ke tanah kelahiran mereka ternyata adalah mantan raja Sriwijaya, raja yang mereka cintai.
Dari Hang Tuah juga, Parameswara mengetahui bahwa kini peraturan Sriwijaya telah berubah.
Para penduduk di setiap penjuru Sriwijaya harus membayar upeti yang tak terkira jumlahnya. Maka Hang Tuah meminta Parameswara memimpin mereka dalam upaya melepaskan diri dari Sriwijaya.
Singkat cerita, Parameswara memimpin para penduduk untuk melakukan pemberontakan. Dibantu oleh para prajurit dan kapal perang dari Panglima Jairo membuat rencana dan taktik yang dijalankan oleh mantan rajanya membuahkan hasil.
Semenanjung Melayu lepas dari tangan Sriwijaya, yang gagal meredam pemberontakan yang dipimpin Parameswara. Suatu hari, Parameswara sedang duduk-duduk bersama Hang Tuah disuatu tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan.
Tiba-tia dari balik pepohonan itu muncul ribuan ekor biawak yang terlihat sangat ganas. Setelah mengetahui bahwa biawak-biawak itu adalah makhluk gaib penunggu daerah tersebut, Parameswara segera mencabut sebilah keris. Keris Si Gentar Alam.
Kemudian ditancapkannya keris tersebut ke tanah sambil berucap dua kalimat Syahadat. Tiba-tiba terdengar gemuruh petir dengan kilat-kilat yang menyambar setiap siluman biawak tersebut.
Seusai peristiwa itu, Parameswara bertanya pada Hang Tuah; “Pohon-pohon apakah ini?”
“Pohon Malaka, Tuanku!” Jawab Hang Tuah.
Maka resmilah nama Malaka menjadi wilayah tersebut dan berdirinya sebuah pemerintahan. Kesultanan Malaka yang dipimpin oleh Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah (Sultan Iskandar Syah).

BUKIT JEMPOL PENINGGALAN RAJA SI GENTAR ALAM

Bukit Jempol yang terdapat di Kabupaten Lahat, memanglah terlihat sangat unik. Bukit yang terlihat seperti stupa candi itu merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya pada masa pemerintahan Raja Cudamaniwarmadewa (Parameswara).
Menurut dialog batin Misteri dengan sosok gaib Raja Cudamaniwarmadewa atau Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah atau juga Raja Si Gentar Alam, bukit Jempol merupakan sebuah candi tempat dirinya berolah kanuragan sejak menjadi murid sosok gaib Dhapunta Hyang.
“Pada waktu-waktu tertentu kita dapat berjumpa dengan sosok Dhapunta Hyang di bukit jempol,” ucap sosok gaib Raja Si Gentar Alam pada Misteri.
Bukit Jempol juga tempat yang didatangi pertama kali ketika Parameswara kembali ke Swarna Dwipa (Sumatera) bersama isterinya yang dikenal dengan nama Puteri Rambut Selaka beserta pengikut-pengikut setia mereka.
Misteri yang melakukan dialog batin dengan sosok gaib Puteri Rambut Selaka mengetahui bahwa dibukit Jempol terdapat banyak peninggalan kerajaan Sriwijaya terutama pada masa kepemimpinan suaminya.
Seperti harta karun, naskah-naskah kuno (prasasti) yang ditulis pada dinding-dinding batu dengan huruf Palawa dan berbahasa Melayu Kuno. Namun ada juga yang bertuliskan huruf Arab gundul dan berbahasa Melayu Kuno.
Akan tetapi, semuanya itu terselimut gaib, mengingat banyak tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab yang siap mencuri dan menjual peninggalan-peninggalan sejarah Nusantara ini.
Tentu saja kita semua berharap, peninggalan-peninggalan dari sejarah Nusantara ini dapat kita pelihara dengan baik. Bukan diperjual-belikan ataupun menjadi milik negara lain. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah wawasan kita seputar sejarah orang-orang di masa lalu.

OLEH : ARRYA